Bencana Banjir di Thailand Berpotensi Angkat Harga Karet

Bisnis.com, JAKARTA - Harga karet diprediksi mengalami penguatan seiring dengan bencana banjir di selatan Thailand yang menghambat proses penyadapan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (6/1/2017), harga karet untuk kontrak Juni 2017 di Tokyo Commodity Exchange menurun 2,05% atau 5,6 poin ke level 267,5 yen (US$2,29) per kg.

Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Thailand memaparkan, 12 provinsi mengalami hujan lebat dan terkena banjir. Termasuk di dalamnya sejumlah wilayah perkebunan dan patiwisata.

International Rubber Consortium memprediksi terganggunya pasokan karet dapat membuat harga semakin tinggi dalam beberapa minggu ke depan. Pasalnya, sekitar setengah wilayah perkebunan di Negeri Gajah Putih dilanda banjir.

Thailand merupakan eksportir karet terbesar di dunia. Sekitar 387.000 ha lahan pertanian mengalami kerusakan, termasuk di dalamnya 4,6% perkebunan karet.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis Central Capital Futures, mengatakan cuaca hujan memang berhasil mengerek harga karet dalam beberapa waktu ke depan. Namun, cuaca kering juga bisa menjadi masalah.

"Musim hujan yang diperkirakan meredup pada akhir Januari menandai awal musim dingin kering di Thailand dan berlangsung hingga pertengahan April. Saat itu, pohon karet merontokkan daunya dan berhenti memproduksi lateks," tuturnya kepada Bisnis.com, Senin (9/1/2017).

Selain masalah cuaca, secara fundamental pasar komoditas membaik akibat tren pengurangan suplai yang dimulai pada 2016. Misalnya rencana pemangkasan produksi minyak dari OPEC dan non anggota dan pembatasan penambangan batu bara di China.

Adanya kesepakatan antara International Tripartite Rubber Council (ITRC), yakni kelompok negara penghasil karet yang terdiri dari pemerintah Thailand, Malaysia, dan Indonesia memangkas kapasitas ekspor atau Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) mulai Maret -- Desember 2016 juga memberikan dampak positif terhadap harga.

Di bawah perjanjian AETS, tiga negara yang memasok 60% kebutuhan karet global akan memotong total ekspornya sebanyak 700.000 ton.

 

Sumber : market.bisnis.com (djk)

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter