Pakar: Indonesia Berpeluang Menjadi Eksportir Kopi Dunia

JEMBER — Pakar energi terbarukan Associate Professor Maizirwan Mel dari International Islamic University Malaysia mengatakan Indonesia berpeluang menjadi eksportir kopi dunia karena kondisi geografisnya memiliki banyak pegunungan, sehingga sangat cocok dijadikan perkebunan kopi.

“Geografis ataupun iklim Indonesia masih sangat bagus untuk perkebunan kopi. Lahan-lahan subur terhampar sangat luas, sehingga saya yakin dengan sumber daya alam yang demikian bagus akan menghasilkan buah kopi yang berkualitas,” katanya dalam konferensi kopi internasional atau “Jember International Coffee Conference” (JICC) yang digelar di aula lantai III Gedung Rektorat Universitas Jember, Jawa Timur, Kamis.

Ia mengatakan Indonesia tidak hanya memiliki sumber daya alam yang bagus, namun juga didukung oleh sumber daya manusia yang baik, sehingga keberadaan perguruan tinggi di Indonesia yang memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan industri kopi menjadikan industri kopi semakin mudah untuk tumbuh besar.

“Seperti halnya Universitas Jember yang kian serius dalam melakukan penelitian dan kajian terhadap kopi, agar bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Tentunya itu akan membuat industri kopi yang ada di Indonesia akan tumbuh pesat jika dikelola dengan serius,” katanya.

Ia menyayangkan posisi Indonesia masih menempati urutan keempat untuk penghasil kopi dunia yang berada dibawah negara Vietnam dan Kolombia. Padahal dari sisi SDM, Indonesia seharusnya berada di atas Vietnam, sehingga penyebabnya kemungkinan pemerintah belum serius mengembangkan bisnis kopi itu.

“Berbeda dengan negara-negara lain yang pemerintahnya begitu serius dalam membantu masyarakat dan mereka tidak hanya membantu masyarakat menghasilkan kopi yang berkualitas, namun juga membantu agar kopi yang dihasilkan bisa diterima pasar ekspor,” ujarnya, menambahkan.

Sementara Ketua Panitia JICC Dr I Dewa Ayu Susilawati mengatakan Universitas Jember memiliki perhatian yang besar terhadap kopi rakyat dan berkeinginan untuk turut berkontribusi memberi nilai tambah bagi kopi, sehingga kopi rakyat menjadi lebih bernilai dan bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakatnya.

“Potensi lain pada pengembangan kopi rakyat adalah diversifikasi produk dari limbah kopi dan limbah kopi yang mencapai 56 persen dari total produksi saat ini belum dimanfaatkan secara optimal,” katanya.

Konferensi kopi internasional diselenggarakan oleh Universitas Jember bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Jember, Pemerintah Kabupaten Bondowoso, serta PTPN XII yang digelar pada 9-11 November 2017 di Kampus Universitas Jember.

Tema utama JICC adalah “coffee for social welfare”, dengan subtema 1. Coffee for Biotechnology and Agriculture; 2. Coffee for Technology; 3. Coffee for Health; 4. Coffee for Social-Politic and Law; 5. Coffee for Culture and Humanities; 6. Coffee for Education; 7. Coffee for Economy, Creative Economy and Tourism.

Sumber : cendananews.com (djk)

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter