PTPN XII Ngrangkah Sepawon Siap Wujudkan Agro Wisata Terpadu

KEDIRI | duta.co– Keberadaan Perseroaan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) XII Ngrangkah Sepawon Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri berada di Kaki Gunung Kelud, dengan tanaman utama kakao, beragam aneka pohon dan tentunya kopi robusta kini menjadi produk andalan.

Manager PTPN, Yudi Kristanto mengaku akan melakukan sejumlah inovasi serta mempromosikan keberadaan Perkebunan Sepawon menjadi lebih maju dan berkembang. Karena potensinya besar perlu inovasi dan pengembangan lebih.

“Kopi robusta merupakan produk andalan kami. Saat ini kami mencoba minuman coklat kakao serta akan melengkapi segala sarana, bagi pengunjung ingin melihat lebih dekat keberadaan Sepawon,” jelas Manager PTPN XII.

Penegasan disampaikan Kepala Tata Usaha (KTU) Wakidi, mengaku telah menyiapkan master plan pengembangan konsep Agro Wisata Sepawon, harapannya mampu menjadi destinasi wisata baru.

Namun, konsep tersebut bukan berarti bisa terealisasi sec epatnya, menginggat perlunya dibentuk tim pengembangan wisata yang mampu menanggani obyek dan melakukan promosi yang efektif.

“Kami telah sediakan lahan, termasuk pembangunan gazebo untuk tempat rehat bagi pengunjung,” ungkapnya, saat ditemui di ruang kerjanya, Minggu (21/1/2018).

Sejumlah tanaman produktif rencananya akan dibudidayakan, seperti beragam jenis jambu, nanas, strawberry, sukun, durian serta varian lainnya.

“Harapannya, wisatawan bisa memetik langsung di kebun, sambil merasakan keindahan panorama Gunung Kelud dari sini,” terangnya.

Dengan optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam, diharapan PTPN Sepawon mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki daya saing, guna meningkatkan keuntungan perusahaan.

“Ini merupakan misi PTPN, tentunya kami membutuhkan dukungan dari semua pihak untuk mewujudkan agro wisata dalam waktu dekat,” jelas Wakidi.

Menyikapi isu berkembang, bahwa Perkebunan Sepawon dikenal angker karena sering dijumpai makhluk halus, menurut Wakidi semua itu tergantung keyakinan dan kepercayaan masing – masing.

“Allah menciptakan bumi dan isinya dengan beragam bentuk. Bila kita bisa menjaga kemudian saling merawat ciptaanNya, tentunya tidak ada istilah atas isu tersebut,” imbuhnya.

Memang bangunan utama berdiri saat Kolonial Belanda, namun keberadaan masyarakatnya yang rukun dan saling menjaga toleransi kerukunan, patut dijadikan inspirasi bagi kita yang berkunjung ke kawasan perkebunan.

Sumber : duta.co– (djk)

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter