Harga Karet kian Kendor gara-gara Penjualan Mobil di China Turun

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan harga karet melemah pada perdagangan pagi ini, Senin (19/3/2018), akibat tertekan ekspansi cadangan komoditas ini disertai menurunnya penjualan mobil di China.

Harga karet untuk pengiriman Agustus 2018 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), melemah 0,78% atau 1,50 poin ke level 190,30 yen per kilogram (kg) pada pukul 10.55 WIB.

Sebelumnya, harga karet dibuka turun 0,26% atau 0,50 poin di level 190,30 yen per kg, setelah pada perdagangan Jumat (16/3) berakhir merosot 1,74% atau 3,40 poin di posisi 191,80.

Menurut Masayo Kondo, Presiden perusahaan riset Commodity Intelligence di Tokyo, peningkatan jumlah cadangan karet telah menekan harga komoditas ini.

“Pada saat yang sama, menurunnya penjualan mobil di China memicu kekhawatiran jika tingkat permintaan dari negara konsumen terbesar di dunia tersebut kemungkinan melesu,” terang Kondo, seperti dikutip Bloomberg.

Cadangan karet China yang dimonitor oleh Shanghai Futures Exchange tercatat naik 0,1% menjadi 438.248 ton pekan lalu, level tertinggi sejak November.

Sementara itu, menurut data China Association of Automobile Manufacturers, penjualan mobil China kepada diler-diler turun 9,6% (y/y) pada Februari. Bahan baku karet terutama digunakan dalam industri otomotif untuk ban.

Turut membebani karet, nilai tukar yen terpantau menguat 0,20% atau 0,21 poin ke posisi 105,80 per dolar AS pada pukul 11.02 WIB, setelah berakhir terapresiasi 0,31% di posisi 106,01 pada perdagangan Jumat (16/3).

Di sisi lain, harga minyak West Texas Intermediate terpantau juga melemah 0,51% atau 0,32 poin ke level US$62,02 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 10.48 WIB.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Agustus 2018 di TOCOM

Tanggal

Harga (Yen/Kg)

Perubahan

19/3/2018

(Pk. 10.55 WIB)

190,30

-0,78%

16/3/2018

191,80

-1,74%

15/3/2018

195,20

+0,26%

14/3/2018

194,70

+1,25%

13/3/2018

192,30

-0,21%

Sumber: Bloomberg (djk)

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter