Minum Kopi Jadi Tren, Kopi Lokal Didorong Tembus Pasar Ekspor

Harianjogja.com, MALANG—Bank Indonesia (BI) Jatim membantu dan mendampingi petani dalam mengembangkan kopi berkualitas. Lewat program kluster, pembudidaya ini didampingi agar dapat menangani pascapanen.

Kepala KPw BI Jatim Difi Ahmad Johansyah mengatakan konsumsi kopi, terutama kopi yang berkualitas, specialty, terus meningkat seturut dengan meningkatnya gaya hidup masyarakat Indonesia, bahkan dunia.

“Yang diharapkan segera masuk dalam program kluster kopi, kebun kopi rakyat di Wonosalam, Jombang,” ujarnya dihubungi dari Malang, Rabu (1/8/2018).

Dengan pendampingan BI, diharapkan budi daya kopi rakyat semakin baik dan benar, termasuk penanganan pascapanennya. Dengan begitu, maka maka citra kopi di Jatim, terutama binaan BI, juga akan meningkat sehingga dikenal di Indonesia dan di dunia.

“Kopi Ijen itu sudah terkenal di dunia. Mereka sudah ada kontrak ekspor dengan beberapa buyer di luar negeri,” ujarnya.

Lewat program pendampingan tersebut, maka diharapkan akan muncul lagi kopi Jatim yang dikenal di Indonesia dan dunia.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Kediri Djoko Raharto mengatakan Kopi Sendang, Kab. Tuluagung, Jatim, akan didaftarkan Bank Indonesia (BI) Kediri untuk memperoleh sertifikat indikasi geografis (IG) agar peluang ekspornya menjadi semakin besar.

Peluang Kopi Sendang untuk memperoleh sertifikat IG besar karena sudah ada kebersamaan antarpetani. Mereka bekerja sama dalam menentukan standar budi daya kopi Arabica yang baik dan benar sehingga menghasilkan kualitas kopi yang baik pula.

“Rencananya tahun depan akan kami daftarkan untuk memperoleh sertifikat IG,” katanya di sela-sela Festival Kopi di Blitar, Minggu (29/7/2018) malam.

Secara bibit, kata dia, Kopi Sendang berpotensi menghasilkan kopi yang baik karena bibitnya memang berkualitas premium berasal dari Puslit Kopi dan Kakao Jember.

Bibit kopi Arabica di sana melalui proses seleksi yang ketat sehingga terpilih kopi yang benar-benar berkualitas.

Ditambah lagi, ketinggian lokasi tanaman kopi yang berada di atas di 1.085 mdpl sehingga berpotensi menjadikan rasa dan aroma Kopi Sendang menjadi berkualitas premium, specialty. BI Kediri membantu 14.000 bibit kopi Arabica pada petani di Sendang.

BI juga membantu petani kopi di sana mesin mengolaj kopi mulai puller, washer, huller, hingga roasting. Bantuan yang realiasasi dari program Kluster Kopi BI Kediri itu diberikan lebih mudah karena petani kopi sudah bergabung dalam Koperasi Omah Kopi Mandiri.

Selain itu, mereka dilatih dalam membudiyakan kopi serta mengolahnya pascapanen dengan bekerja sama Puslit Kopi dan Kakao Jember serta PTPN XII di Kebun Rangka Pawon.

“Dengan diberi pelatihan juga mengenai penanganan pascapanen, maka diharapkan petani kopi mendapatkan nilai tambah di usaha tersebut,” ucapnya.

Dengan model pendampingan seperti itu, kata Djoko, maka diharapkan petani bisa menembus pasar ekspor seturut dengan meningkatnya pasokan kopi karena keberhasilan budidayanya.

Bendahara Koperasi Omah Kopi Mandiri Kurnia Ika Kusuma mengatakan nilai tambah dari penanganan pascapanen sangat besar. Jika kopi robusta dijual dalam bentuk buah segar, hanya Rp7.500-Rp10.000/kg, sedangkan Arabica Rp15.000/kg, namun dalam bentuk roasting-an, harga meningkat menjadi Rp150.000/kg dan Rp300.000/kg.

“Kopi dari Sendang yang kami tanam diperkirakan berproduksi banyak pada tahun depan juga siap ekspor. Kami sudah melakukan sudah melakukan pembicaraan buyer,” ucapnya.

 

Sumber : Bisnis Indonesia (djk)

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter