Kuartal I/2018, Olahan Kakao Amerika Utara Turun 1,14%

Bisnis.com, JAKARTA – Industri pengolah kakao di Amerika Utara merosot pada kuartal I/2018.

Data yang diumumkan oleh asosiasi kembang gula nasional atau NCA Amerika Utara pada Kamis (19/4/2018), menjadi penanda permulaan terlemah sejak 2011,

Industri kakao di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tercatat mengolah 118.778 ton pada kuartal pertama 2018, turun 1,4% dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Namun, hasil tersebut terbilang naik sebanyak 2,3% dari kuartal keempat 2017.

Pada kuartal pertama 2018, hasil olahan kakao lebih rendah dibandingkan dengan ekpektasi yang berkisar antara 1,5% - 2% di atas kuartal pertama 2017.

Data tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap kakao olahan sebagai bahan utama pembuat cokelat masih tinggi, meskipun industri pengolah kakao papan atas di Pantai Gading telah mengurangi persentase hasil olahannya untuk negara-negara konsumen.

Berbanding terbalik dengan data di Amerika Utara, pengolah Eropa justru mengalami kenaikan produksi dalam tiga bulan pertama pada tahun ini sebanyak 5,5% dibandingkan dengan tahun lalu menjadi 358,432 ton, volume tertinggi daerah pada kuartal I, melampaui rekor pada 1999.

Pantai Gading sebagai produsen nomor satu melaporkan hasil olahannya meningkat 2% pada kuartal I 2018 menjadi 130.000 ton.

Data Organisasi Kakao Internasional (ICO) menunjukkan, pada masa panen 2017/2018 (Oktober/September), hasil olahan kakao global diprediksi naik 2% menjadi 4,49 juta ton. Sementara itu, 48% pengolah diramalkan berasal dari Afrika dan Asia, tempat kakao dapat tumbuh dan kapasitas pengolahan dapat bertambah.

Sembilan perusahaan telah tercatat oleh NCA dalam partisipasinya terhadap survei di Amerika Utara, yaitu: Barry Callebaut AG, Blommer Chocolate Co., Cargill Cocoa & Chocolate Co., ECOM, Ghirardeli Chocolate Co., Guittard Chocolate Co., Hershey Co., Mars Wrigley Confectionery, dan Nestle SA.

Sebagai informasi, pada Januari, grup pengolah cokelat Italia Ferrero membeli perusahaan kembang gula AS Nestle.

Sumber : industri.bisnis.com (djk)

Bagikan:

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter